
Dalam ekosistem kota pintar (Smart City), peningkatan pesat perangkat nirkabel dan beragam standar komunikasi menimbulkan kemacetan spektrum dan interferensi sinyal. Kondisi ini dapat menghambat komunikasi yang andal dan berlatensi rendah, padahal sangat dibutuhkan oleh berbagai aplikasi seperti keselamatan publik, pemantauan lingkungan, serta transportasi cerdas.
Menanggapi permasalahan tersebut, tim peneliti yang terdiri atas Budi Bayu Murti dan Alif Subardono mengusulkan penerapan teknologi Radio Kognitif (Cognitive Radio/CR), yang memungkinkan Secondary Users (SUs) memanfaatkan kanal yang tidak digunakan oleh Primary Users (PUs) melalui proses penginderaan spektrum adaptif. Namun, metode konvensional seperti Energy Detection (ED) dinilai kurang efektif pada kondisi Signal-to-Noise Ratio (SNR) rendah. Sistem tidak mampu mengenali jenis modulasi sinyal yang merupakan salah satu aspek penting untuk komunikasi adaptif dan mitigasi interferensi.